PENTINGNYA PERAN ORANGTUA DALAM PENCEGAHAN NARKOBA

PERANAN ORANG TUA DALAM PENANGGULANGAN NARKOTIK

PERANAN ORANG TUA DALAM PENANGGULANGAN NARKOTIK
A. Pendahuluan
John Fletcher, seorang filsuf, menyatakan : “Engkau boleh menikmati narkotik hari ini, dan semua penderitaan dapat diredam, tetapi …. Mungkin besok engkau tidak akan berbuat apa-apa lagi selama-lamanya”. Dengan kata lain, narkotik memberikan kenikmatan sesaat tetapi tidak memberikan kenikmatan seterusnya karena engkau telah terhapus dari peta kehidupan manusia.
Salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat adalah merebaknya peredaran dan penyalahgunaan narkotik yang mendunia. Seiring dengan perkembangan itu, Indonesia sebagai negara yang berada di lintasan strategis arus manusia dan barang, tidak luput bahkan menjadi sasaran akhir lalu lintas perdagangan dan peredaran narkotik.
Upaya penerangan, pencegahan, dan penanggulangan penyalahgunaan narkotik hendaknya dilakukan oleh segenap lapisan masyarakat kita, baik pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, orang tua dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Upaya ini harus dilakukan secara serentak, terencana terarah, dan berkesinambungan dengan metode dan cara yang tepat serta efektif.
B. Penyebab individu menjadi pengguna Narkotik
Ada 3 jenis faktor yang membuat individu terjerumus dalam penyalahgunaan Narkotik:
1. Predisposisi. Kondisi pribadi yang memungkinkan seseorang menjadi penarkotik, misal :
1. Pribadi yang labil
2. Citra diri yang buruk : kurang menghargai diri sendiri.
2. Kontribusi. Kondisi ekstern yang memperkuat keinginan seseorang mempergunakan narkotik, misal:
1. Rasa sepi
2. Pelarian
3. Mencari kenikmatan
4. Berbuat dalih dengan kedok-kedok (‘excusitis’), misalnya : “Orang tua tidak memperhatikan saya, sehingga membuat saya sedih dan menggunakan narkotik….”.
5. Kurangnya pengetahuan akan bahaya narkotik
6. Tekanan teman sebaya
3. Pencetus. Faktor ekstern yang mendorong seseorang memakai narkotik, misal :
1. Stres
2. Masalah keluarga
3. Tekanan teman sebaya
4. Tersedianya obat
C. Perilaku Penyalahguna Narkotik
Beberapa tingkah laku yang patut diperhatikan orang tua atau pendidik:
1. Perhatian dan konsentrasi terhadap pelajaran atau pekerjaan menurun, sehingga prestasi pun menurun.
2. Sering meminta atau meminjam uang kepada orang tua atau teman
3. Membentuk kelompok dengan sesama penyalahguna narkotik.
4. Memburuknya kepribadian dan tingkah laku.
5. Sering murung dan merasa tertekan.
6. Sering minum alkohol atau sejenisnya dan sekali-sekali dijumpai dalam keadaan mabuk, merokok secara berlebihan.
7. Banyak menggaruk anggota badan
8. Cepat tersinggung, mudah marah, sering melamun, malas, mengantuk, tidak memperhatikan kebersihan diri. 
9. Menghabiskan sebagian besar waktu di gudang, kamar kecil, kamar mandi, dan ruang yang gelap. Sering menghindari pertemuan dan bersikap kasar terhadap anggota keluarga.
10. Sering mencuri di rumah, sekolah, atau tempat kerja.
11. Memakai kacamata hitam (‘sun glasses’) pada sore atau malam hari untuk menyembunyikan ekspresi wajah dan pupil matanya.
12. Sering membolos dan menurunnya disiplin diri. Jarang di rumah, ering pulang terlambat atau sering tidak pulang.
13. Sering menggunakan baju berlengan panjang untuk menyembunyikan bekas suntikan.
14. Perubahan pola tidur : siang menjadi malam dan sebaliknya.
15. Selera makan berkurang, menolak diajak makan bersama.
16. Mulai malas beribadah.
D. Bahaya dan Dampak Narkotik
I. Bagi Pengguna
1. Ada beberapa jenis narkotik yang meningkatkan nafsu seksual, sehingga dapat mengarah pada petualangan seks, dengan risiko tinggi tertular AIDS. Penyalahgunaan narkotik itu sendiri bukan penyebab AIDS, tetapi alat suntik yang dipakai bergantian itu yang bisa menjadi biang keladi penularan AIDS.
2. Penyalahgunaan narkotik merupakan bahaya karena dapat menimbulkan : kesengsaraan, kerugian, kecelakaan, dan kematian.
1. Kesengsaraan. Menimbulkan ketergantungan fisik dan psikis terhadap narkotik. Ketergantungan fisik mendorong individu mendapatkan narkotik dengan menghalalkan segala cara, tanpa memperdulikan akibatnya. Ketergantungan psikis membuat individu selalu merasa cemas, gelisah, merasa tidak nyaman tanpa narkotik. Bila daya kerja narkotik sudah habis, timbul perasaan depresi dan tidak puas. Di samping ketergantungan, terdapat kecenderungan pembiasaan yaitu kebutuhan penambahan dosis agar dapat memberi efek yang diinginkan.
2. Kerugian.
 Ekonomi : Memerlukan biaya besar untuk memenuhi kebutuhan akan narkotik.
 Waktu : individu menjadi tidak menghargai waktu, karena 1 linting ganja akan membuat pusing selama 2 – 4 jam, sedang morfin membuat pusing untuk waktu 8 jam.
 Mental : perubahan perilaku yang sebelumnya taat, ramah, dan sopan, menjadi tidak taat, suka menentang, tidak sopan, agresif, dan tidak jarang terlibat tindak kriminal.
3. Kecelakaan. Terjadi karena salah persepsi pada penginderaan. Contoh : banyak kasus kecelakaan lalu lintas terjadi di bawah pengaruh narkotik.
4. Kematian. Kematian datang menjemput para penyalahguna narkotik karena dosis berlebih.
II. Bagi Orang Lain
1. Bagi keluarga
o Beban ekonomi
o Tekanan mental karena malu
2. Bagi bangsa dan negara
o Berkurangnya sumber daya manusia yang potensial.
o Meningkatnya gangguan keamanan dalam masyarakat (tindak kriminal).
E. Pencegahan
Setiap manusia yang diciptakan Tuhan mempunyai misi agar berbuat baik terhadap sesama manusia dan mahluk hidup lainnya. Misi ini dapat terlaksana dengan mengembangkan potensi yang ada. Kehadiran narkotik melemahkan bahkan menghancurkan potensi ini.
Dalam masyarakat kita, orang tua memegang peranan yang besar dalam membentuk jiwa dan mempengaruhi kehidupan anak-anaknya. Orang tua adalah pemegang kunci utama dalam upaya penyelamatan putra-putrinya dari bahaya penyalahgunaan narkotik. Diharapkan pola asuh orang tua dapat mencegah anak menjadi penarkotik.
I. Pola Asuh
Secara eksperimental sikap orang tua dalam mengasuh anak tergambar sebagai berikut :
1. Sebagai ‘Tukang Ya’ : Orang tua yang ‘Tukang Ya’ adalah orang tua yang ‘baik hati’ (good parents) yang selalu memanjakan anak, tidak tega menolak permintaan, dan selalu melindungi anak. Akibatnya anak menjadi manja, tidak dapat mandiri, tidak ada semangat juang, tidak kreatif, selalu tergantung pada orang lain, dan tidak tahan banting menghadapi stres.
2. Sebagai ‘Tukang Jangan’ : Orang tua yang bersikap moralis yang selalu melarang dan bertindak sebagai polisi atau pastor terhadap anak-anaknya. Akibatnya potensi anak tidak berkembang, anak tidak kreatif, anak merasa diperlakukan sebagai anak kecil, merasa tertekan yang menimbulkan protes dan sikap membangkang.
1. Sebagai polisi, penghukum : “Pulang pukul 21.00. Bila terlambat minggu depan tidak boleh pergi lagi!”. Sikap ini sebenarnya juga diperlukan untuk menegakkan disiplin.
2. Sebagai pastor : “Jangan berbuat begitu, dosa!”. Sikap moralis ini sesungguhnya dibutuhkan sebagai rem rohani, yang menanamkan nilai-nilai baik dan buruk, yang boleh dan tidak boleh.
3. Sebagai Superman dan Raja/Ratu : Orang tua menganggap dirinya yang paling benar dan paling hebat. Anak dianggap tidak tahu apa-apa, tidak berpengalaman. Akibatnya anak tidak berani mengeluarkan pendapat karena selalu salah. Akibat lebih lanjut lagi anak selalu merasa malu, bodoh, tidak dihargai, tertekan, stres.
1. Sebagai Superman : “Saya mampu menyelesaikan semua masalah”, sikap inipun dibutuhkan agar individu selalu berusaha, berbesar hati untuk mampu menyelesaikan persoalan.
2. Sebagai Raja/Ratu : “Saya yang berkuasa, sang pengatur, kamu harus patuh”. Namun, sikap ini diperlukan untuk menumbuhkan kepatuhan dan merupakan dasar belajar berorganisasi (ada pemimpin, anak buah, dan sebagainya).
4. Sebagai ‘Tukang Sulap’ : Orang tua yang selalu menggampangkan segala sesuatu, tidak perduli terhadap masalah anak, menganggap semua masalah anak dapat diatur dengan mudah. Cara ini menumbuhkan dalam diri anak sikap dangkal, manipulatif, dan pura-pura. Sementara orang tua tidak menjadi tokoh panutan, mereka dapat dibohongi, dan yang lebih menyedihkan lagi anak tidak mau membicarakan masalahnya dengan orang tua. Kendati begitu, sikap ini diperlukan untuk mengembangkan daya kreativitas (contoh : tidak ada beras, yang ada hanya singkong, maka singkongpun disulap menjadi makanan pengganti nasi).
5. Sebagai ‘Atlet’ : Orang tua yang memperhatikan anak pada hal yang bersikap fisik, material, dan prestasi. Merka mengabaikan kebutuhan mental (agama, hati nurani, nilai moral). Akibatnya anak berkembang tidak seimbang, tidak kritis. Sikap ini sebenarnya juga diperlukan agar memiliki tubuh yang sehat.
6. Sebagai ‘Orang Tua Sejati’ (Real Parents) : Orang tua sejati berbeda dari orang tua yang baik. Dalam diri orang tua sejati terintegrasi secara seimbanga semua sikap orang tua ‘tukang ya’, ‘tukang jangan’, superman’, ‘rja/ratu’, ‘pesulap’, ‘atlet’, dan mengekspresikannya secara bertanggung jawab dan pada waktu yang tepat. Pada suatu saat mereka dapat mengiyakan permintaan anak tetapi pada saat lain dpat menolak permintaan anak dengan tegas. Pada saat tertentu bertindak sebagai nara sumber yang baik bagi anak, tetapi pada saat lain mau belajar, menghormati dan menghargai anak. Merke tidak menganggap masalah anak sebagai masalah yang kecil, tetapi dapat memandangnya sebagai soal-soal yang seruius. Merka memperhatikan perkembangan anak baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial. Orang tua demikian adalah orang tua yang mencintai dan peduli terhadap anak secara bertanggung jawab. Mereka mempunyai wawasan yang luas, saleh memiliki rasa hormat, komunikatif, dan memiliki pengetahuan untuk mendidik anak. Mereka dapat menciptakan hubungan yang harmonis dengan anak, karena menggunakan pendekatan dua arah (dialog). Dengan demikian anak pun mencintai orang tuanya secara tulus. Mereka memandang orang tuanya sebagai tokoh panutan. Rumahpun (house) benar-benar menjadi tempat berteduh yang nyaman (home) bagi mereka.
II. Aspek Hukum
Pemerintah telah mengatur sanksi hukum untuk narkotik golongan I dalam pasal 111 sp 116 UU No. 35 thn 2009(Sanksi hukum untuk pelanggaran menanam, memiliki, menyimpan, memproduksi, memakai, mengedarkan narkotik sangat berat, mulai dari minimal 4 tahun penjara sampai dengan hukuman seumur hidup atau hukuman mati ditambah denda minimal 800 juta maksimal 8 miliar rupiah). Sedanglkang Narkotik gol II diatur dalam pasal 117-121 dan golongan III diatur dalam pasal 122-126 UU 35 Thn 2009 tentang Narkotik.
Bagi pengguna narkotik dapat dipidana 1-4 tahun seperti tertera pasal 127 UU 35 Thn 2009.
F. Penanggulangan Bahaya Narkotik
Menghadapi anak penarkotik :
1. Jangan panik, tetap tenang dan hindarilah menggunakan ancaman/kekerasan.
2. Jangan marah atau memaki-maki : harus ada kendali diri agar tidak memperburuk keadaan.
3. Dengan tegas tetapi manis, katakan pendapat anda serta tunjukkan perhatian anda terhadap anak. “ibu tidak ingin kamu menjadi penarkotik”.
4. Tunjukkan kekuatiran anda akan bahaya narkotik yang dapat merusak fisik, mental, dan kehidupan sosial individu. (bujuk dan sadarkan anak akan bahaya narkotik)
5. Tunjukkan pengertian : “Ibu mengerti bahwa kau cukup sering mendapat bujukan dari teman-temanmu”.
6. Mawas diri : carilah kemungkinan penyebabnya. Usahakan memperbaiki kekurangan-kekurangan anda sendiri “Apakah tingkah laku saya sendiri berpengaruh buruk terhadap anak saya?”
7. Menawarkan bantuan untuk anak “Barangkali ayah bisa membantu memecahkan masalahmu, nak?”
8. Tidak perlu bersikap berlebihan : “Masukkan ke Rumah Sakit”.
9. Jangan menangis dan tak perlu menyalahkan diri sendiri.
10. Jangan berdiam diri, carilah pertolongan! Penyembuhan tak dapat ditangani sendiri, harus bekerja sama dengan dokter, guru, konselor, psikolog, sesama orang tua yang anaknya penarkotik.
11. Orang tua penarkotik harus memiliki kelompok untuk mencegah anak kembali menjadi panarkotik (‘therapeutic community’).
12. Bekas penyalahguna narkotik juga harus mempunyai kelompok untuk berbagi rasa (‘self help group’).
13. Membimbing anak mengembangkan citra diri yang sehat.
14. Once an addict is not always an addict. It is a sin not a sinner. Penarkotik dapat disembuhkan, maka tetaplah mencintai anak penarkotik, peluk dan berilah dukungan, dorongan yang membangkitkan semangat.
15. Mendengarkan kesulitan anak. Masalah anak adalah kesusahan orang tua juga. Orang tua hendaknya peduli.
16. Penarkotik harus belajar dari pengalaman. Sakitnya bila tidak memperoleh narkotik, maka lebih baik menjauhkan diri dari narkotik. Penarkotik harus menyadari bahwa narkotik merusak fisik, dan mental, sehingga tak dapat sekolah atau bekerja.
G. Mencegah kambuh/relaps
1. Sikap dasar : ‘past is past, it can happen again’. Kekambuhan pada penarkotik hal yang sering dijumpai, maka untuk mengatasi hal ini diperlukan :
2. Menciptakan suasana keluarga yang sehat sejahtera:
1. Membina rasa saling menghargai
2. Menemukan dan mengembangkan bakat
3. Mengungkapkan kasih
4. Mengembangkan citra diri yang sehat
5. Peka terhadap keadaan masyarakat dan dunia
6. Mendapat kepuasan secara rohani
3. Menggerakkan aktivitas hidup sehat dalam keluarga:
1. Gizi seimbang
2. Belajar, berdoa, bekerja, berusaha, bersyukur
3. Olah raga
4. Rekreasi
4. Mengembangkan kepribadian untuk menumbuhkan citra diri yang sehat.
5. Mengembangkan tanggung jawab dan ketahan diri dengan berorientasi pada nilai-nilai yang lebih tinggi.
6. Mengembangkan aktualisasi diri.
7. Terlibat dalam ‘after care group’.
H. Penutup
Setiap individu mudah jatuh ke dalam bujukan narkotik, bila hidup terasa hampa, tak berarti. Menggandrungi dan mencri hiburan lewat narkotik, melambangkan kelirunya gambaran tentang tujuan hidup, salahnya pemanfaatan perangkat-perangkat hidup, pemborosan uang, penghancuran masa depan, dan merusak kehidupan.
Pada setiap individu harus tetanam ketekunan berjuang, kemampuan mengolah keindahan dengan teliti, dan bakti kepada Yang kuasa yang mendunia dan terbuka. Ketiga sifat ini dapat menciptakan cita rasa hidup luhur. Sifat-sifat ini tercermin dalam pola asuh orang tua serta usaha individu dan masyarakat untuk mengatasi bahaya narkotik. Kita akan mampu memandang aneka perangkat hidup (kesehatan, kekayaan, kekuasaan, kebaktian pada yang Kuasa) dalam batas dan proporsi seimbang. Dengan benteng yang kokoh ini, narkotik akan lumpuh dan tak berdaya tarik.

PMK Dinkes Bantul

About puskespajangan

Jl. Pajangan, Sendangsari, Pajangan, Bantul Kode Pos 55751 Telp. 710 1300
This entry was posted in Info Puskesmas and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Silahkan tuliskan apabila ada komentar atau saran dari Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s